belajar kemandirian
Kemandirian Belajar
Di dalam proses pembelajaran setiap siswa atau
peserta didik selalu diarah-kan agar menjadi peserta didik yang mandiri,
dan untuk menjadi mandiri se-seorang individu harus belajar, sehingga
dapat dicapai suatu kemandirian belajar. Didalam perkembangannya
kemandirian muncul sebagai hasil proses belajar dan pengalaman itu
sendiri dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya lingkungan
keluarga, dan lingkungan sekolah.
Menurut Benson
(http://colaborative-learning.wordpress.com/2008/09/10/- babii)
mendefinisikan keman-dirian siswa sebagai kemampuan untuk meng-awasi
pembelajarannya sendiri. Dengan demikian kemandirian siswa
men-cerminkan kesadaran siswa dalam memenuhi kebutuhan belajarnya
sendiri untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan tertentu..
Durkheim(http://www.sma-dwiwarna.net/website/data/artikel/kemandirian-.htm)
berpendapat bahwa keman-dirian tumbuh dan berkembang karena dua faktor,
yaitu:
1) Disiplin yaitu adanya aturan bertindak dan otoritas
2) Komitmen terhadap kelompok
Pendapat tersebut menyatakan bahwa kemandirian
itu berkembang melalui proses keragaman manusia dalam kesamaan dan
kebersamaan, bukan dalam kevakuman.
Keadaan mandiri akan muncul bila seseorang
belajar, dan sebaliknya ke-mandirian tidak akan muncul dengan sendirinya
bila seseorang tidak mau belajar. Terlebih lagi kemandirian dalam
belajar tidak akan muncul apabila siswa tidak dibekali dengan ilmu yang
cukup. Menurut Mujiman
(http://-banjarnegarambs.word-press.com/2008/09/10/kemandirian-belajar-siswa)
belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat
atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna mengatasi suatu
masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang
dimiliki
Sehingga seorang anak dikatakan mandiri
(http://banjarnegarambs.word-press.com/2008/09/10/kemandirian-belajar-siswa)
apabila anak itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Dapat menemukan identitas dirinya,
2. Memiliki inisiatif dalam setiap langkahnya,
3. Membuat pertimbangan-pertimbangan dalam tindakannya,
4. Bertanggung jawab atas tindakannya
5. Dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhanya sendiri.
Dalam pembelajaran guru hanya berfungsi sebagai
fasilitator, yaitu guru hanya sebagai pembimbing, misalnya membantu
siswa untuk memecahkan sesuatu masalah bila siswa tersebut menemui
kesulitan dalam belajar.
Sesuai dengan pendapat Benson
(http://colaborative-learning.wordpress-.com/2008/09/10/ babii), bahwa
kemandirian siswa dapat ditingkatkan dalam beberapa prinsip yang
mencakup:
1. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran
2. Memberikan pilihan sumber pembelajaran
3. Memberikan kesempatan untuk memilih dan memutuskan
4. Memberikan semangat kepada siswa
5. Mendorong siswa melakukan refleksi.
Burt Sisco
(http://banjarnegarambs.word-press.com/2008/09/10/kemandirian-belajar-siswa)
ada 6 langkah kegiatan untuk membantu individu menjadi lebih mandiri
dalam belajar, yaitu:
1. Pre-planning (aktivitas sebelum proses pembelajaran)
2. Menciptakan lingkungan belajar yang positif
3. Mengembangkan rencana pembelajaran
4. Mengidentifikasi aktivitas pembelajaran yang sesuai
5. Melaksanakan kegiatan pembelajaran dan monitoring
6. Mengevaluasi hasil pembelajaran individu.
Jadi kemandirian belajar (self-direction
in learning) dapat diartikan sebagai sifat dan sikap serta kemampuan
yang dimiliki siswa untuk melakukan ke-giatan belajar secara sendirian
maupun dengan bantuan orang lain berdasar-kan motivasinya sendiri untuk
menguasai suatu kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk
memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata. Dalam penelitian ini
kemandirian belajar siswa yang akan diamati adalah: mempelajari materi
yang akan dipelajari dengan sendirinya, bertanya kepada guru bila merasa
kesulitan dan menjawab pertanyaan guru, berdiskusi dengan kelompok,
mengerjakan LKK baik secara individu maupun kelompok, menanggapi dan
bertanya saat presentasi.
Categories: